Kalau kamu lahir di tahun 70, 80, atau 90-an, coba dengarkan ini sebentar. Ada kalanya, kita rindu masa lalu. Bukan karena ingin kembali ke zaman yang sulit, tapi karena di sana, hati kita pernah benar-benar bahagia.
Dulu, di pagi itu sederhana, anak-anak berangkat sekolah jalan kaki, sambil nongkrong kecil di warung depan rumah. Orang tua duduk di teras, menyapu halaman, atau menjemur pakaian sambil ngobrol dengan tetangga.
Tidak ada scroll HP, tidak ada notifikasi, tapi ada tawa yang nyata. Indonesia baru terhubung internet sekitar tahun 1994. Sebelumnya, dunia terasa lambat. Tapi justru karena itu, kita benar-benar hidup.
Telepon rumah dengan kabel spiral yang panjang itu. Jadi saksi berapa banyak pesan penting, tawa, bahkan cinta. Televisi tabung zaman dulu cuma punya beberapa channel tapi tiap malam keluarga duduk bersama makan malam sambil nonton berita.
Di tahun 80-90-an anak-anak bermain di luar rumah, galasin, kelereng, lompat tali, petak umpet, permainan yang mungkin tidak kaya teknologi tapi kaya kenangan.
Pasar tradisional pun selalu ramai. Penjual sayur yang suaranya khas, ibu-ibu menawar harga, dan bau khas pasar yang entah kenapa, sampai sekarang tidak bisa dilupakan. Sejarah sosial mencatat, masyarakat dulu lebih sering berinteraksi langsung. Dan itu membuat hubungan terasa dekat, bukan sekadar follow dan like.
Di rumah, tape recorder memutar lagu-lagu Rhoma, Niki Ardila, Chrisye atau Koes Plus. Ada suara khas ketika kaset harus digulung pakai pensil. Hal kecil yang sekarang mungkin lucu, tapi dulu adalah bagian besar hari-hari kita. Keluarga berkumpul di ruang tamu, anak-anak belajar, orang tua mengobrol, suara kipas angin berputar, damai banget ya.
Kadang kita bertanya, kenapa masa lalu terasa lebih indah, padahal dulu juga ada masalah, kekurangan, dan keterbatasan. Jawabannya sederhana. Dulu, kita hidup lebih pelan, lebih dekat, lebih manusiawi.
Hari ini waktu berjalan lebih cepat, teknologi mengambil banyak peran, tapi tidak bisa menggantikan hangatnya masa lalu. Dan mungkin, yang kita rindukan bukan sekadar zaman dulu, tapi versi diri kita, yang dulu merasa cukup hanya dengan memiliki keluarga, teman, dan kebahagiaan sederhana.😁😊🙏🙏


0 Komentar