Senja selalu membawa melancholia yang pekat di Kota Surabaya. Di sudut Cafe kecil bernama 'Asmara Rindu,' Ningsih, seorang blogger atau penulis muda dengan rambut cokelat bergelombang yang selalu diikat longgar, sedang menatap rintik hujan yang membasahi jendela. Di hadapannya, naskah novel terbarunya tergeletak, belum tersentuh selama berminggu-minggu. Yang tersentuh hanyalah cangkir kopinya, yang aromanya sedikit banyak menenangkan badai dalam hatinya.
Ningsih menulis tentang cinta yang ideal, cinta yang abadi dan tak terpisahkan, namun di kehidupan nyata, ia merasa seperti sedang mengumpulkan kepingan teka-teki yang hilang dari sebuah kisah yang tak pernah ia miliki. Angannya dipenuhi siluet seorang pria yang ia ciptakan sendiri, seorang yang mengerti setiap jeda dalam kalimatnya dan setiap rona senja dalam matanya.
Malam itu, saat ia sedang terhanyut dalam lamunannya, pintu Cafe terbuka, membawa serta angin dingin dan suara sepatu pantofel yang tergesa. Seorang pria, berjaket denim usang dan membawa tas kanvas yang tampak penuh, masuk. Dia basah kuyup, tapi senyumnya memancarkan kehangatan yang kontras dengan cuaca di luar. Pria itu, yang belakangan Nella ketahui bernama Hermansyah, adalah seorang arsitek lanskap yang idealis.
Hermansyah duduk di meja dekat jendela, tepat di seberang Nella. Tanpa sengaja, mata mereka bertemu. Dalam tatapan itu, Ningsih melihat sesuatu yang familiar bukan wajahnya, melainkan kedalaman dan sedikit kelelahan yang sama seperti yang ia rasakan.
"Cuaca yang luar biasa," sapa Hermansyah, suaranya agak serak.
Ningsih hanya tersenyum tipis, "Luar biasa buruk untuk inspirasi."
"Justru," balas Hermansyah, meraih buku sketsanya, "Hujan adalah penghapus. Ia menghilangkan kebisingan, menyisakan kejujuran."
Sejak malam itu, obrolan singkat itu menjadi janji yang tak terucapkan. Setiap sore, Hermansyah akan datang ke Cafe, memesan kopi yang sama, dan bekerja. Kadang, mereka berbagi cerita; tentang impian Ningsih untuk melarikan diri dari Kota Surabaya dan menulis di tepi pantai, atau tentang hasrat Hermansyah untuk menghidupkan kembali taman-taman kota yang mati.
Ningsih mulai menyadari, sosok Hermansyah tidak persis seperti pria dalam angannya, tapi kehadirannya jauh lebih nyata dan menarik.
Hubungan Ningsih dan Hermansyah berkembang perlahan, selembar demi selembar, seperti tanaman yang baru berakar. Mereka mulai menghabiskan waktu bersama di luar kafe. Hermansyah sering mengajak Ningsih ke proyek terbarunya: mengubah lahan kosong yang dipenuhi puing-puing menjadi kebun komunitas yang hijau.
Di sana, di bawah terik matahari, Ningsih melihat hasrat Hermansyah. Cara dia memegang sekop, cara dia menjelaskan pentingnya drainase, cara matanya berbinar saat tunas pertama muncul dari tanah. Itu adalah hasrat yang tulus, bukan hanya pekerjaan.
"Kau tahu, Ning," kata Hermansyah suatu sore, sambil menyeka keringat di dahinya, "Cinta itu seperti menanam. Kau harus sabar menunggu, harus merawat, dan kau harus menerima bahwa kadang-kadang, hasilnya tidak akan persis seperti yang kau harapkan, tapi akan selalu unik."
Kata-kata itu menusuk Ningsih. Ia terlalu sering membandingkan Hermansyah dengan angan idealnya, dengan pangeran yang ia ciptakan di dalam kepalanya. Angannya menuntut kesempurnaan dan romantisme yang dramatis, sementara Arya menawarkan realitas, peluh, kesabaran, dan tawa yang jujur.
Suatu malam, saat mereka duduk di bangku taman yang baru selesai dibangun Hermansyah, bintang-bintang bersinar terang, dan Hermansyah menggenggam tangan Ningsih. Genggaman itu kuat, nyata, dan hangat.
"Aku menyukaimu, Ningsih," katanya, tanpa basa-basi. "Bukan karena cerita yang mungkin kau tulis, tapi karena kau. Kau adalah kejujuran yang menawan."
Jantung Ningsih berdebar kencang. Ini adalah momen yang selalu ia tunggu dalam angannya, namun yang ia rasakan kini adalah ketakutan. Ketakutan untuk merusak keindahan ini dengan ekspektasi yang terlalu tinggi.
"Aku..." Ningsih menarik tangannya perlahan. "Aku takut, Ya. Aku takut kalau kau tidak nyata. Atau kalau kau terlalu nyata, dan aku tidak bisa memenuhi standar cerita cintaku sendiri."
Hermansyah hanya tersenyum sedih. "Aku bukan tokoh novel, Ningsih. Aku hanya Hermansyah. Kau tidak perlu menuliskan kisah kita. Cukup jalani saja."
Ningsih kembali ke Cafe 'Asmara Rindu'. Ia memutuskan untuk menjauh, untuk memberi jarak, untuk mencari tahu mengapa ia tidak bisa sepenuhnya menerima cinta yang begitu tulus. Ia meyakinkan dirinya bahwa ia hanya membutuhkan waktu untuk menulis, untuk fokus pada kariernya.
Ia mencoba menulis kembali, namun yang keluar hanyalah kehampaan. Ia menulis tentang seorang pahlawan, yang karakternya sangat mirip dengan Hermansyah gigih, hangat, dan memiliki sentuhan magis dengan alam. Namun, setiap kata yang ia ketik hanya mengingatkannya pada betapa bodohnya ia membiarkan Hermansyah pergi. Ia mengejar bayangan yang ia ciptakan, sementara hasrat yang nyata sudah di depannya.
Minggu berganti bulan. Hermansyah tidak pernah menghubunginya. Ia menghormati jarak yang diminta Ningsih. Cafe 'Asmara Rindu' terasa kosong, meskipun tempat duduk Hermansyah tetap terisi.
Suatu sore yang dingin, Ningsih melihat Hermansyah di sebuah berita lokal. Ia memenangkan penghargaan arsitek lanskap muda terbaik, proyek kebun komunitasnya menjadi percontohan nasional. Foto Hermansyah terpampang besar, senyumnya sama hangatnya, namun kini ia dikelilingi oleh rekan-rekan kerjanya yang tersenyum bangga.
Melihat Hermansyah sukses, menjalani hidupnya, melepaskan Ningsih, sebuah kesadaran menghantamnya. Angan adalah pelarian, tapi cinta sejati membutuhkan keberanian untuk hidup dalam realitas. Hasrat cinta yang sebenarnya bukan tentang kesempurnaan kisah, melainkan tentang menerima kekurangan dan ketidakpastian.
Ningsih tahu ia harus bertindak. Ia tidak bisa hidup di antara halaman-halaman fiksi selamanya. Ia harus menghadapi kebun yang pernah mereka tanam bersama.
Ia mencari alamat kebun komunitas itu dan pergi ke sana di tengah hujan gerimis sore hari. Kebun itu kini sudah matang, dipenuhi bunga-bunga yang mekar dan sayuran yang subur. Di tengah-tengah semua itu, Ningsih melihat Hermansyah. Ia sedang berbicara dengan seorang anak kecil tentang cara menanam biji.
Ketika Hermansyah melihat Ningsih, dia berhenti. Ada keheranan di matanya, dan sedikit rasa sakit yang tidak bisa ia sembunyikan.
Ningsih berjalan mendekat, kakinya basah oleh lumpur. "Selamat atas penghargaanmu, Ya," katanya, suaranya bergetar.
"Terima kasih," jawab Hermansyah datar.
"Aku datang bukan untuk merayakan," kata Ningsih, menatap kebun. "Aku datang untuk mencari tahu apakah... apakah benih yang kita tanam di sini masih bisa diselamatkan."
Hermansyah menghela napas. "Benih itu sudah tumbuh, Ningsih. Kau yang memilih untuk tidak menyiramnya."
Air mata Ningsih mulai menetes. "Aku tahu. Aku terlalu sibuk mencari pangeran dari novelku, sampai aku tidak melihat raja yang berdiri tepat di depanku. Aku takut, Ya. Aku takut kalau aku menerimamu, aku akan kehilangan inspirasiku. Aku pikir, cintaku harus tragis, harus rumit, seperti di buku."
Hermansyah menatapnya dalam-dalam. "Kau salah, Ning. Cinta sejati tidak akan mengambil inspirasimu. Justru sebaliknya. Cinta yang nyata akan memberimu fondasi. Ia akan memberimu tanah, tempat kau bisa menanam segala macam cerita, baik yang bahagia maupun yang rumit."
Ningsih maju selangkah, kini lumpur di kakinya menyentuh sepatu Hermansyah. "Beri aku kesempatan, Ya. Aku ingin berhenti berangan. Aku ingin merawat hasrat ini. Aku ingin belajar mencintai kenyataan bersamamu."
Hermansyah terdiam sejenak. Kemudian, dia tersenyum, senyum yang sama hangatnya dengan yang ia berikan di Cafe berbulan-bulan lalu. Dia tidak memeluk Ningsih atau menciumnya dengan dramatis. Dia hanya mengulurkan tangan.
"Ayo kita perbaiki bangku ini. Kayunya sudah mulai lapuk. Lalu, kau bisa menceritakan padaku semua yang tidak bisa kau tulis saat kau pergi."
Ningsih meraih tangannya. Genggaman itu masih sama: kuat, nyata, dan penuh janji. Ia tidak lagi mencari pahlawan yang sempurna. Ia menerima Hermansyah dengan segala kehangatannya, idealismenya, dan lumpur di sepatunya.
Angan telah mempertemukan mereka, tapi Hasrat Cinta yang nyata, yang berakar pada ketulusan dan keberanian untuk hidup, akan membuat mereka tetap bersama. Ningsih tahu, kisah cinta terbesarnya bukan pada halaman novel yang ia tulis, tapi pada kehidupan yang baru ia mulai, di tengah kehijauan kebun kota, di samping seorang pria yang mencintainya apa adanya.


2 Komentar
Akhirnya Ningsih sadar juga, padahal belum dikasih jampi-jampi sama Hermansyah.. hihihihi.. jodoh memang ngga ketukar.. wkwkwk
BalasHapusBukannya udah ente sembur sebelumnye pake aji jaran goyang.😁😁
HapusBisa ketuker Huu.. Kalau Ada Egus dan Khamir.😂😂